Home » Uncategorized » Pro Kontra Hadirnya LCGC (Low Cost Green Car)

Pro Kontra Hadirnya LCGC (Low Cost Green Car)


Di kawasan perkotaan menjadi sebuah pemandangan yang indah ketika kesibukan kota mampu diseimbangi oleh lingkungan yang humanis, namun kenyataan yang terjadi terkadang harus berbanding terbalik dimana semakin sulit ditemukan tempat yang layak diperkotaan yang memang mampu menunjang keadaan tersebut. Para pemikir besar seperti Aristoteles, Rosseau, atau Max Webber dulu menggambarkan kota sebagai tempat yang kaya keragaman dan relasi interpersonal, tempat dimana masyarakat merasa terlindungi, terfasilitasi. Namun, paradoks kini kian mencuat di perkotaan. Seiring melonjaknya jumlah warga di kota, ternyata dibarengi dengan peningkatan “keruwetan” sistem pelayanan publik yang dibangun pemerintah.

Kontroversi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah  mengenai LCGC yang tertuang dalam Peraturan

Mentri Perindustrian (Permenperin) Nomor 33/M-IND/PER/7/2013 baru-baru ini banyak menuai pro-kontra. Permenperin  tersebut merupakan turunan dari program mobil emisi karbon rendah atau low emission carbon  yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang kendaraan yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Peraturan itu menyebutkan salah satunya adalah penghapusan pajak bagi penjualan mobil hemat energy dengan kapasitas mesin di baah 1200cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit di baah 20 km per liter. 

Jika kita lihat,  di satu sisi hadirnya LCGC atau yang lebih dikenal dengan “mobil murah” dapat meningkatkan iklim investasi di Indonesia namun di sisi lain akan banyak menimbulkan kontra  terkait

kesiapan sarana prasarana kesediaan jalan kita dalam menampung sejumlah kehadiran mobil murah yang ada di jalanan. Dalam hal ini jalan yang kita punya  sudah penuh dan sesak di kota – kota besar di negeri ini, terutama di kota Jakarta yang memang sampai saat ini masih menjadi jantung urat nadi pemerintahan dan perputaran ekonomi di Indonesia. Data yang dapat kami temukan ternyata pertumbuhan kendaraan di Jabodetabek tidak sebanding dengan pertumbuhan ruas jalan, dimana pertumbuhan kendaraan disana mencapai 8%/tahun sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0,01%/tahun dengan komposisi 1,2%nya atau 87.600nya adalah kendaraan umum sudah termasuk KRL sedangkan kendaraan pribadi sebesar 7,25 juta/98,8% nya. Dan yang menjadikan lebih miris ialah perharinya kendaraan pribadi dengan sejumlah itu hanya mengangkut 44% atau 6,73 juta jiwa selama perjalanan sedangkan angkutan umum dengan jumlahnya yang hanya sebesar itu harus menanggung beban ngkut 56% atau 8,6 juta jiwa. Ini menjadi sebuah fakta yang tidak sebanding dengan apa yang dijanjikan pemerintah kepada masyarakat terkait kebijakan transportasi kita, bahkan di Jakarta sendiri ketika dihitung perharinya rata-rata terdaftar 1.284 kendaraan baru masuk.

Low Cost Green Car (LCGC) sebagai suatu kebijakan baru, sepintas regulasi ini bagus dalam konteks pertumbuhan ekonomi, transportasi, dan energi. Namun  secara Paradigmatis per

aturan Pemerintah ini akan cacat, karena seharusnya yang diberikan insentif adalah pengelola angkutan umum, bukan sebaliknya justru dalam hal ini  industri otomotif yang membuat masyarakat justru nantinya dapat bertanya-tanya ada apa dengan pemerintah kenapa begitu mudahnya menggolkan peraturan yang mendukung industri-industri besar penghasil barang jasa non layanan publik, namun begitu susah mendukung industri yang menunjang pelayanan publik. Dari sisi timing, regulasi ini juga meninggalkan catatan karena dalam timing yang dirasa belum tepat yaitu masih buruknya sarana dan prasarana transpoprtasi umum di Indonesia, sebaliknya regulasi ini bisa diterima jika sistem transportasi di kota-kota besar di Indonesia sudah memadai dan terintegrasi. Regulasi ini terlalu menguntungkan dan memanjakan industri otomotif.

Sehingga Produk massal mobil LCGC tersebut pada akhirnya akan membuat macet kota-kota besar di Indonesia, belum lagi nantinya efek terhadap jebolnya APBN karena subsidi BBM akan kian melambung. Ini dapat dilihat dari Data BPS bahwa Defisit Neraca Perdagangan hingga Juli 2013 mencapai 5,65 miliar dollar  AS, dengan rincian sumbangsih Defisit Neraca Perdagangan Migas mencapai

7,6 miliar dollar AS dan Neraca Perdagangan Nonmigas surplus hanya 1,95 miliar dollar AS sehingga defisit tidak dapat tertutupi.

           Pemerintah sepantasnya sebagai pengendali utama dari sistem transportasi tidak bisa diam melihat hal ini, LCGC mau tidak mau akan terus berjalan dan tidak selamanya LGCG juga merupakan kebijakan yang buruk ketika memang konsep transportasi mampu dipikirkan baik-baik. Nantinya mungkin aparatur pemerintah daerah yang harus bekerja keras berkejaran dengan masuknya mobil-mobil murah ke daerah mereka karena memang ini sudah menjadi keputusan di tingkat pusat namun bukan tidak mungkin mereka bisa mengendalikannya bahkan benar-benar membuktikan bahwa kebijakan ini memang bermanfaat dari banyak sisi tidak hanya ekonomi saja.

Pro kontra terkait kehadiran kebijakan mobil ini memang tidak dapat dihindari terkait dengan banyaknya faktor-faktor yang sudah dihadirkan diatas, apalagi ternyata juga muncul keluhan terutama dari produsen mobil nasional yang mengatakan bahwa seakan – akan kebijakan ini telah menipu apa yang telah dijanjikan pemerintah bahwa mobil dengan kapasitas mesin 1000

cc kebawahlah yang nantinya akan mendapat insentif 0% pajak pembelian namun ternyata mereka khususnya pelaku usaha mobil nasional harus bertarung dengan produsen mobil dari luar negeri bermesin 1200 cc seperti terangkum dalam PP Nomor 41 Tahun 2013 pasal 3 ayat 1c. Pemerintah sudah menggiring kita kepada budaya konsumerisme dan golongan ekonomi menengah sudah tidak dapat dibendung lagi untuk tidak membeli mobil karena secara pendapatan dimungkinkan untuk membeli  kendaraan bermotor dengan UMR yang terus meningkat dan ketika dihadapkan pada pilihan mobil atau motor ada kemungkinan besar ketika kondisi keuangan mencukupi mereka akan lebih memilih mobil. Bahkan berdasarkan survei komuter Japanese Technical Cooperation for Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration, pada tahun 2002 persentase pengguna sepeda motor sebesar 27,8 persen, pengguna mobil 15,2 persen, pengguna bus atau angkutan umum 50,1 persen dan selebihnya 6,9 persen adalah moda lainnya seperti becak,ojek dan jalan kaki. Sementara itu pada tahun 2010 pengguna sepeda motor sudah meningkat tiga kali lipat menjadi 62,9 persen , mobil 17,4 persen, pengguna bus menurun tiga kali lipat menjadi 16,71 persen dan moda lainnya 3 persen.

Mungkin ada beberapa tawaran solusi yang dapat kita bersama tawarkan dalam hal ini seperti contohnya pemaksimalan moda transportasi angkutan massal, baik itu bus, KRL ataupun sejenisnya. Kemudian pembuatan kawasan terpadu yang terintegrasi dengan titik – titik transit transportasi harus sudah dipikirkan dalmungkin kita bisa mulai memakai konsep Park A Ride yaitu dimana disediakan kawasan parkir yang terintegrasi langsung dengan moda transportasi baik itu Kereta Api ataupun Bus kota. Industri Otomotif bukan tidak mungkin benar-benar berperan besar terhadap Ketahanan Ekonomi Nasional,  bahkan dalam paparan Direktur Jenderal Industri UnggulanBerbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budhi Dharmadi bahwa sektor otomotif menyumbang pemasukan pajak Rp 75 Triliun bahkan ekspor mobil Indonesia sudah merambah ke 80 negara di belahan Asia, Afrika, bahkan sampai ke Amerika Selatan. Bukan sebuah kejutan kalau mobil Avanza yang akan mengantar wisatawan ketika berada di Afrika Selatan, jadi ada potensi besar sebenarnya dari sektor ini. Hanya memang persoalan yang terjadi tetaplah memerlukan keseriusan dari pemerintah untuk menanganinya. Jika kita peduli,bukan tidak mungkin tata kelola transportasi kita mampu lebih baik dan berperan besar bagi ketahanan ekonomi kita.

Ervin Sapto Nugroho & Suryo Hilal

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: